Mimpi Punya Pasar yang Memikat

pasarsanta_1

Pasti tidak sedikit yang pernah jalan-jalan ke pasar-pasar yang ada di Melbourne, Sydney, Amsterdam, atau kota-kota di Amerika, lalu berharap bukan dalam hati lagi, tapi diucapkan lugas, “Kalau saja pasar-pasar di Indonesia bisa seperti ini.”

“Bisa seperti ini” biasanya berarti menyenangkan untuk dikunjungi. Ada toko kelontong berdampingan dengan bakery. Ada lapak sayur-mayur yang berteman dengan kios produk-produk rancangan anak-anak muda kreatif. Ada toko kain yang berteman dengan toko t-shirt.

Pasti tidak sedikit yang pernah berharap bahwa kegiatan nge-mall setiap akhir pekan di Jakarta bisa diganti dengan sesuatu yang lain. Makan di restoran dengan harga mahal dan rasa yang begitu-begitu saja juga butuh alternatif.

Apakah itu artinya kita harus membangun sebuah gedung baru yang didisain khusus untuk jadi pasar jadi-jadian?

Pasar Santa sama sekali tidak dibangun dengan visi atau misi menjadi sebuah pasar seperti di Melbourne. Tidak ada infrastruktur fisik yang menunjukkan Pasar Santa direncanakan menjadi sebuah pasar yang bisa jadi objek wisata. Koridor-koridor sempit. Lahan parkir sangat terbatas. Sirkulasi udara tidak ideal.

Memang tidak sepatutnya Pasar Santa dipaksakan menjadi tempat nongkrong anak muda.

Namun, apakah sepatutnya lantai atas Pasar Santa menjadi mati selama tujuh tahun? Apakah sepatutnya ratusan kios terbengkalai tanpa ada yang menggubris? Apakah sepertiga dari potensi ekonomi kerakyatan di Pasar Santa patut dipadamkan begitu saja?

Selama tujuh tahun, baik Pengembang (Developer) maupun PD Pasar Jaya seolah tidak punya ide untuk menghidupkan potensi ini. Selama tujuh tahun, pemilik-pemilik kios di lantai atas melupakan investasi mereka begitu saja; listrik tidak dibayar, retribusi tidak dilunaskan, pajak tidak ditunaikan. Kios-kios tersebut menjadi kuburan bayi. Usahanya belum juga dimulai, tapi sudah divonis mati.

Padahal, Pasar Santa selalu bersih, selalu aman, dan selalu strategis. Kenapa tidak berkembang? Kenapa selama tujuh tahun PD Pasar Jaya dan Pengembang (Developer) buntu ide?

Ketika kopi dan piringan hitam menjadi daya tarik anak-anak muda dan kalangan kreatif untuk datang ke Pasar Santa, lantai atas ini jadi terlihat seksi. Anak-anak muda merasa bukan hanya tempat, tapi juga kesempatan buat memperkenalkan ide-ide kreatif mereka ke publik. Ide-ide kreatif yang akan terpaksa jadi komersil kala dibebani biaya sewa di shopping mall.

Dan, tiba-tiba saja – tanpa rencana, tanpa persiapan, tanpa perhitungan – Pasar Santa jadi wadah yang menampung banyak ide kreatif.

Ketika masyarakat semakin menerima wajah Pasar Santa yang baru, dan media selalu lalu-lalang di koridor-koridornya untuk mencari berita menarik, siapakah yang siap untuk mengelola hal yang baru ini? Tidak ada. Siapakah yang memahami dan mampu mengimplementasikan teori tentang bagaimana dinamika ekonomi kreatif dengan pedagang tradisional semestinya dibina? Tidak ada. Siapakah yang cukup berkuasa untuk menentukan batas-batas pengembangan? Tidak ada.

Lantas, siapakah yang kini sibuk menelaah berbagai kelemahan dan ketimpangan Pasar Santa? Banyak. Siapakah yang asyik menggarisbawahi kesalahan-kesalahan berbagai pihak – mulai dari anak-anak muda yang buka kios mewah, PD Pasar Jaya yang kurang tanggap, pihak Pengembang yang sibuk jualan – tanpa peduli untuk memahami situasi dan kondisi Pasar Santa secara menyeluruh? Banyak. Siapakah yang bangga karena merasa dirinya cukup pintar untuk berkomentar soal Pasar Santa tanpa merasa perlu berkunjung dan berbincang-bincang dengan para pedagang kecil, pihak Pengembang, pihak PD Pasar Jaya, dan para “penghuni baru” Pasar Santa? Banyak sekali.

Pasar Santa yang sekarang berubah secara organik. Pasar Santa yang sekarang ini adalah sebuah barang baru yang tidak ada buku manualnya. Bisa jadi banyak teori, tapi apakah teori-teori tersebut bisa diterapkan atau tidak hanyalah mereka yang benar-benar setiap hari ada di Pasar Santa yang tahu.

Berbagai langkah sudah mulai dicoba diambil sejak berbulan-bulan lalu. Penghuni-penghuni baru membentuk asosiasi yang tujuan utamanya adalah menjalin hubungan, bahkan melindungi pedagang-pedagang lama di Pasar Santa yang hidupnya sangat bergantung pada kios-kios yang mereka sewa. Advokasi dan diskusi dengan PD Pasar Jaya dan pihak Pengembang sudah dilakukan selama berbulan-bulan. Interaksi antara pedagang lama dan pedagang baru juga dijalin lewat transaksi, silaturahmi, dan acara-acara bersama.

Usaha untuk bertemu dan berdiskusi dengan Bapak Gubernur DKI pun sudah lama kami coba, tapi belum juga terwujud.

Daya tarik komersil Pasar Santa semakin mengalahkan daya tarik kreatif. Demikian banyak peminat yang mau buka usaha di Pasar Santa yang kini ramai dan hidup. Mereka bawa uang, berani bayar mahal untuk satu kios. Mungkin tanpa mereka sadari, mereka membeli kios yang minggu lalu masih ditempati pedagang baju batik untuk mereka ubah jadi toko yang menjual barang mewah.

Banyak sekali pihak yang bisa dituding bersalah. Ada yang mau mengaku, ada yang tidak. Tuding menuding ini tidak akan membawa solusi apa-apa, dan juga tidak menjadikan penudingnya tambah pintar ataupun tambah bermakna. Bukan berarti isyu ini dibiarkan saja berlalu. Karena, pada saat ini yang menjadi korban adalah pedagang kecil dan pedagang lama di Pasar Santa. Mereka yang menghidupi keluarga lewat kios berukuran 2×2 meter persegi saja.

Itu sebabnya gerakan #SustainableSanta diluncurkan. Pada saat ini, sementara menerima kritik bahkan cacian sinis dari publik, kami para usahawan baru di Pasar Santa masih berharap ada dukungan juga. Dukungan terutama untuk melindungi para pedagang kecil dan pedagang lama di Pasar Santa. Dukungan yang diawali dengan menandatangani Petisi kepada Pak Ahok untuk Melindungi Pedagang Pasar Santa ini.

Ini bukan petisi untuk menjadikan Pasar Santa sebuah pasar modern dan keren seperti di luar negeri. Ini bukan gerakan menciptakan tempat nongkrong anak gaul Jakarta. Ini bahkan lebih dari sekedar permohonan perlindungan atas sekelompok pedagang di Pasar Santa.

Ini adalah bagian dari pembelajaran bersama. Bahwa ternyata ekonomi pasar tradisional yang seharusnya menjadi fondasi kita dengan mudahnya tergerus oleh ekonomi gaya shopping mall. Ada yang memang posisinya menjadi penonton dan komentator saja. Ada yang menjadi pemerhati yang berwawasan jauh ke depan.

Apabila semua gagal, dan Pasar Santa kembali jadi lumpuh sebagian, atau jadi “shopping mall bukan, pasar juga bukan”, kami yang terlibat langsung di dalam kisah ini mungkin dirugikan secara materiil. Namun, usaha yang kami lakukan, dan pembelajaran yang kami dapatkan nilainya jauh lebih tinggi daripada sekedar adu pintar (bahkan adu lucu!) berkomentar.

2 comments
  1. Pingback: PasarSantaBlog

  2. turut prihatin mba akan keadaan pedagang2 di pasar santa. Terimakasih juga mba untuk postingannya ttg pasar santa ini, saya jadi tahu keadaan pasar santa pada awalnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: