Menampik 7 Alasan Takut Menulis Kisah Perjalanan di Media

1. Saya tidak bisa menulis.

Tapi, Anda bisa bercerita, bukan? Setidaknya, Anda bisa bercerita secara verbal. Tuangkan saja dulu bahasa verbal Anda ke dalam tulisan. Tuangkan semuanya tanpa peduli apakah tulisan Anda jadinya bagus, kacau, atau buruk sama sekali. Lalu, baru rapikan perlahan-lahan. (Betapa mudahnya merapikan tulisan di jaman komputer ini. Bandingkan dengan dua puluh tahun lalu di mana jari-jari penulis harus tersiksa di atas mesin tik saat harus revisi.)

Jangan ragu minta masukan baik dari teman-teman yang sudah biasa menulis atau yang senang membaca. Cukup rapikan tulisan hingga menjadi bacaan yang teratur dan kalimat-kalimatnya baku. Setelah itu, jangan ragu untuk mengirimkannya ke media. Ingatlah bahwa setiap media punya editor yang bertugas membantu penulis. Dan, jangan salah! Penulis yang paling berpengalaman pun masih butuh bantuan editor. Jadi, jangan rendah diri dan takut dulu. Coba saja. Anda tidak akan rugi.

2. Tujuan wisata saya tidak spesial.

Yang penting bukan tujuan wisatanya (saja) tapi sudut pandang dan pengalaman pribadi Anda (juga). Contoh: Singapura. Negara yang lebih kecil dari Jakarta itu sampai sekarang masih saja diliput oleh berbagai media massa. Mungkin sudah ada ratusan artikel tentang Singapura sebagai surga belanja, atau tempat menikmati konser-konser berkualitas, atau pengalaman nonton F1. Namun, katakanlah Anda sangat doyan nasi ayam Singapura. Nah, judul artikel “10 Tempat Nasi Ayam Terenak di Singapura” masih sangat menarik untuk banyak media massa.

3. Foto-foto saya tidak istimewa.

Beberapa media punya bagian atau jabatan yang namanya Photo Editor, yang fungsinya memilih dan menyesuaikan foto-foto yang akan dimuat. Selama foto Anda masih fokus dan tidak buram, maka masih ada harapan! Tata letak (layout) di media juga bisa berperan dalam menyembunyikan kekurangan foto dan menajamkan kekuatannya. Media juga menyadari bahwa tidak semua penulis kisah perjalanan bisa mengambil foto sebaik seorang fotografer profesional. Banyak trik yang bisa media lakukan untuk mengatasi hal ini. Mereka berpengalaman. Selama tulisan Anda unik dan baik, masalah foto bisa diatur. Tulisan saya pernah diterbitkan di sebuah majalah dengan foto yang mereka beli dari Getty Images.

4. Saya belum pernah menulis di media manapun.

Seringnya, hal ini malah membuat media yang Anda tuju bersemangat. Media juga bosan membaca nama penulis kisah perjalanan yang itu-itu juga di mana-mana. Nama penulis baru tetap disambut, bahkan dicari.

Baca juga: Jalan-Jalan Sendirian
Related: Being a Ghost Writer – Why Not?

5. Saya tidak punya kenalan di media.

Tepatnya: Anda belum ditemukan oleh media manapun. Bukan Anda yang tidak punya kenalan di media, tapi media yang belum berhasil kenalan dengan Anda. Anda harus ditemukan. Kisah perjalanan Anda yang unik itu harus ditemukan dan diterbitkan. Dan, memang harus Anda yang berinisiatif memperkenalkan diri. Jadi, bukalah halaman-halaman depan dan situs-situs semua media yang Anda ingin tuju, dan dapatkan alamat email serta nomor telepon redaksinya.

Dua hal berikut ini mungkin bukan alasan, tapi sering ditanyakan dan jadi pemikiran banyak penulis pemula:

6. Berapa honor menulis di media?

Serial Sex & The City itu berdusta. Anda tidak akan jadi kaya hanya dengan menulis satu kolom saja di majalah bulanan. Honor menulis di media hanya cukup untuk mengganti jam kerja Anda, dan mungkin ditambah makan-makan enak. Honor memang tidak boleh tidak dipikirkan. Tulisan Anda harus dihargai. Sampai sekarang masih ada media yang membayar satu tulisan di bawah angka Rp500.000,-, namun ada juga yang berani bayar tiga atau empat kali lipat. Di saat Anda harus menelan bulat-bulat honor yang terlalu minim, ingat bahwa masih banyak keuntungan lain yang bisa Anda dapatkan.

7. Keuntungan lain yang bisa saya dapatkan?

Ya, gratis menginap di hotel mewah, makan enak, bahkan tiket pesawat ke Eropa, memang merupakan keuntungan yang sangat menyenangkan. Tapi, jangan jadikan berbagai “gratisan” itu sebagai motivasi utama. Yang paling penting adalah “memasang nama” di media.

“Memasang nama” Anda di media cetak merupakan modal awal untuk menulis lebih banyak lagi dengan rasa percaya diri yang lebih tinggi.  Bangun arsip dan portfolio tulisan Anda dengan baik. Miliki file dalam format .pdf dari tulisan pertama (dan selanjutnya) Anda. Sertakan saat mengajukan ide-ide tulisan lain ke medai-media cetak lain lewat email. Targetkan tulisan kisah perjalanan Anda ke berbagai macam media – mulai dari majalah perjalanan, majalah gaya hidup, majalah teknologi, majalah pria, majalah wanita, koran nasional, koran daerah, online magazine, majalah perusahaan, majalah dalam pesawat terbang, dan sebagainya. Belum punya blog? Bangunlah blog atau situs pribadi, dan sertakan portfolio Anda di dalamnya. Tanpa Anda disadari, tahu-tahu Anda sudah tampil sebagai penulis profesional.

Ketika nama dan reputasi Anda sebagai penulis kisah perjalanan sudah cukup kuat, keuntungan lain dengan sendirinya menyusul. Mulai dari tawaran menulis buku, membantu proyek dokumentasi di tempat-tempat unik yang pernah Anda datangi, menjadi pembicara, menjadi travel consultant, dan seterusnya. Kemungkinannya tidak ada habisnya. Dan, semua hanya berawal dari berani mencoba mengirim tulisan pertama Anda ke sebuah media.

11 comments
  1. ladeva said:

    Reblogged this on Let's Pack and Go! and commented:
    Nah, tunggu apa lagi? Yuk tulis kisah perjalanan kita di media.😉

  2. Iksa said:

    Tidak kepikiran itu alasan pembenar juga ya … Sesungguhnya takut juga mungkin .. >> refleksi habis membaca posting di atas.

  3. jarwadi said:

    di dalam menulis, kalau saya sih menulis blog, hampir bisa dikatakan saya tidak mendapatkan keuntungan lain. keuntungan terbesar yang saya rasakan yang saya dapatkan dari menulis di blog adalah reputasi dan relasi🙂

  4. tulis tulis tulis!
    kata Stephen King.

    tembus ga tembus itu urusan kesekian.
    sukses muncul, itu bonus.

  5. Aulia said:

    dilema di atas tidak saja dialami oleh orang yang ingin tulisannya mejeng di media, blogger pun kadang menghinggap kegalauan seperti itu😀

    • Luar biasa..! Menggugah semangad saya untuk berkreasi,dan berani mencoba..

  6. Rifqy Faiza Rahman said:

    Alhamdulillah, saya sudah mencoba dan tidak mengejar materi, tapi kepuasan ketika dimuat di media. Salam kenal om🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: