Being a Ghost Writer – Why Not?

This picture has nothing to do with the text, but I just hate it when my blog entry has no picture at all.

“Elo mau gue jadi ghost writer atau co-writer?” tanya gue ke Shanty di awal kerja sama kami sebelum mulai menulis buku SHANTY: Bongkar Rahasia, Bagi Cerita.

“Bedanya apa, Ve?” Shanty bertanya karena memang dia masih belum tahu banyak soal dunia penerbitan dan tulis menulis.

“Bedanya, kalau gue jadi ghost writer, nama gue ngga dicantumkan di buku. Sama sekali ngga. You can take all the credit. Tapi, peduli amat buku itu nantinya laku atau ngga, gue akan minta jumlah honor yang tetap. And, it’s NOT gonna be cheap,” gue mulai menjelaskan. “Sementara kalau gue jadi co-writer, nama gue akan ada di buku. Gue akan share royalti penjualan buku sama elo.”

Gue ngga masalah apakah gue jadi ghost writer atau co-writer. Bagi gue, dua-duanya ada plus dan minus points.

Sebagai ghost writer, gue bisa nulis dengan tenang. Tinggal Shanty (dan penerbit) aja nanti yang decide apakah tulisan itu layak terbit atau ngga. Kalau menurut dia layak terbit, ya silakan terbitkan. Kalau buku itu diterima dengan baik oleh masyarakat, Shanty will get all the glory. Kalau buku itu ternyata nanti bermasalah – kualitasnya buruk, atau ada data yang tidak akurat, lantas ada keberatan dari pihak lain, terus ada somasi hukum – gue akan terbebas dari segala masalah, dan Shanty yang bakal hadapi semua itu. In the meantime, gue dibayar mahal.

Sebagai co-writer, gue harus menulis dengan lebih hati-hati karena nama gue juga bakal muncul di sampul buku tersebut. Gue juga bakal lebih serius lagi menggarap buku tersebut karena kalau ngga bagus, ya gue rugi sendiri. Duit yang masuk ke gue ngga bakal banyak, karena sistem pembayaran buat gue adalah bagi royalti berdasarkan persentase. Kalau bukunya diterima dengan baik oleh masyarakat, nama gue ikut terangkat. Kalau buku itu bermasalah, nama gue juga akan ikut terbawa-bawa.

Setelah dijelaskan, Shanty langsung bilang bahwa dia ngga mau kalau gue hanya jadi “tukang nulis” saja. Dia mau gue ikut punya rasa memiliki yang tinggi terhadap buku tersebut, dan gue menuangkan hati dan kerja keras gue di situ bersama-sama dengan dia. Oke kalau begitu. Yuk, gue jadi co-writer. Tinggal kita bicarakan saja lagi persentase royalti yang akan gue terima berapa.

Surat Kontrak pun dibuat, di mana semuanya tertera dengan jelas – bahwa nama gue harus ada di front cover, back cover, dan juga halaman dalam buku. Persentase royalti juga jelas. Bahkan, soal peranan gue dan Shanty di acara-acara promo – mulai dari launching, promo di radio, road show, dll. – juga jelas betul. Pekerjaan menulis bersama kami baru betul-betul dimulai ketika surat kontrak sudah kami setujui bersama dan tanda tangan bersama.

Setelah itu, kami bekerja dengan enak, tanpa beban. (Tentu kecuali di saat gue suka menghilang gara-gara ketinggalan deadline. Hehe. Shanty teriak-teriak deh ke gue.) Materi tulisan semua bersumber dari pengalaman Shanty. Bahkan, sebagian besar dari bab-bab yang ada ditulis secara “kasar” oleh Shanty. Shanty ngoceh ngalor ngidul seperti nulis blog – tanpa tata bahasa yang baku, tanpa titik koma, dlsb. Gue bilang, “Pokoknya elo nulis aja kayak elo lagi curhat, atau nulis surat ke temen. Entar bagian gue adalah mengatur struktur, flow, penyampaian, dll.” Setelah bahan baku tulisan dikasih gue, gue mengolahnya jadi draft sebuah buku. Shanty juga akan baca lagi buat memastikan bahwa gue ngga melenceng. “Juga jangan sampe tulisannya terlalu gaya elo banget. ‘Ke-Shanty-an”-nya harus tetap ada, karena ‘gimana pun ini ‘kan buku tulisan kita berdua,” wanti-wantinya. Setelah semua oke, kita serahkan deh ke penerbit. Penerbit akan mengeditnya lagi. Baru diterbitkan. Jadi deh tuh buku.

Tulisan ini cepat-cepat gue hadirkan karena ada selentingan yang jelek tentang pekerjaan sebagai ghost writer. Buat gue pribadi, kalau waktu itu Shanty memilih bentuk kerja sama di mana gue jadi ghost writer, gue ngga bakal keberatan.

“Ga masalah mau jadi ghost writer atau co-writer. Asal tau porsi dan tanggung jawab masing-masing. Kalau memang sebagai ghost writer, dia tidak akan disebut dan ditampilkan, ya terimalah begitu adanya. Resiko pekerjaan, ‘kan? Lain perkara kalau dia sebetulnya terima job-nya sbg co-writer tapi diperlakukan sebagai ghost writer. Nah, itu boleh deh protes. And besides, semuanya akan diperjelas di kontrak kerja secaara detail. So,never do any kind of work without menandatangani kontrak kerja. Di bidang apapun,” tambah Shanty.

So, you got an offer to be a ghost writer? Why not? Tinggal masalah angka saja, ‘kan? Tidak idealis? Well, begini istilahnya;

Katakanlah gue adalah pencipta lagu. Gue bisa memilih apakah gue akan menciptakan sebuah masterpiece di mana semua orang akan mengenal karya gue DAN nama gue sebagai penciptanya, ATAU gue bisa memilih untuk membuat jingle iklan yang keren banget, tapi ngga ada yang tau bahwa gue-lah pencipta jingle itu. Gue dibayar harga yang bagus buat jingle itu, dan ngga ada sistem royalti. Siapa yang berani bilang bahwa pekerjaan membuat jingle iklan itu adalah salah? Siapa yang berani kasih aturan ke calon musisi baru: “Eh, elo jangan pernah bikin jingle iklan ya, karena itu berarti elo ngga idealis!” Bitch, who died and made you Mother Mary?!

You wanna be a ghost writer for a book? Go for it! Asal bayarannya benar-benar sepadan sama kerja keras elo, bahkan lebih dari itu. Elo HARUS untung materiil karena elo ngga bakal dapat keuntungan non-materiil berupa pencantuman nama. Ngga boleh ngga. You wanna write your own book? Go for it juga. Asal elo bener-bener stay true to yourself, jangan nulis sesuatu yang “bukan elo”, dan jangan terbitkan tulisan elo sampai elo sendiri benar-benar yakin dan cinta mati sama tulisan elo itu sendiri. You wanna be a co-writer? Go for it juga! Pastikan pembagian keuntungan, sistem kerja, jadwal promosi, penjualan dan sebagainya tertera dengan amat sangat jelas dan detil di surat kontrak kerja.

Or, you just wanna yap in your blog? Ya silakan, lah. Enak ‘kan kalau nulis di blog kayak begini? At least, elo ngga usah mikirin grammar.

17 comments
  1. airyz said:

    nah ini mencerahkan ini.. :’)

  2. Enakan tulis di blog, yg baca bs lgsg komen, and just like you said, qta jg ga tllu pusing mikirin grammar
    Ketauan males nya pake tata bahasa yg baik dan benar haha
    Sukur2 jdi blog terkenal *ngarep* *pdhal isi blog labil2an smua* LOL

  3. niwa said:

    Wah nice share kakak..
    Tapi klo buku yang ditulis jadi terkenal dan populer, ghostwriter-nya mungkin bakal sedih ya? Hehehe..

    • Sedih sedikit, tapi itu resiko pekerjaan. Kalau memang jadi ghost writer, setelah buku terbit, tugas dan tanggung jawab dia memang harus “menghilang”. Jangan pernah bilang ke siapapun bahwa dia-lah yang menulis buku itu. Itu kode etik-nya. Yang penting udah dibayar gede. Hehehehe.

  4. antyo said:

    Saya menyukai dan menghargai posting ini karena edukatif, memberikan pemahaman tentang contoh pekerjaan diam-diam.🙂 Penulis pidato juga jarang dapat tepuk tangan, kan?😀
    Dengan adanys posting ini maka semua orang bisa belajarbahwa segala sesuatunya, jika menyangkut order pekerjaan, harus jelas. Memag bukan jaminan sih bahwa setelah jelas pasti lancar jaya.😉

  5. Ita Sh said:

    Wah, sekarang jadi paham. Setiap hal pasti ada untung ruginya yah🙂

  6. Ita Sh said:

    Reblogged this on Cer(ita) and commented:
    Postingan yang sangat bermanfaat…

  7. agita said:

    kira kira berapa rentang angka yg disepakati kalau mau sewa ghostwriter ya ?🙂
    info dong sis..

  8. Nich said:

    Ah, jadi ngerti bedanya..
    Sayangnya, kalau urusan sama teman, suka ngerasa kalau kontrak itu gak perlu :p

  9. Chater said:

    Ketawa cekikikan ngebacanya, sampai 2 hubby asking “Are you crazy”….

  10. Ibeth said:

    Bagus deh🙂

  11. Tengkiu banget infonya, info ini yg lagi sy perlukan buat jadi co-writer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: