Lovely Man (2011)

Sementara seorang banci pulang ke rumahnya dalam keadaan babak belur sambil menenteng sepasang sepatu berhak tinggi, seorang gadis berjilbab berusia sembilan belas tahun tengah duduk bersandar di jendela kereta yang retak itu. Kereta yang ditumpanginya berpapasan dengan kereta lain yang datang dari arah berlawanan. Lewat retakan jendela itu, Cahaya memandang Jakarta yang mendekat dan mendekat.

Bayangan dan harapan Cahaya akan figur ayahnya yang sudah meninggalkan dirinya dan ibunya sejak empat belas tahun yang lalu itu memang retak ketika ia mengetahui bahwa Saiful alias Ipuy adalah seorang banci. Gadis remaja berjilbab ini pun berinteraksi dengan banci berahang kotak dan berbahu kekar itu. Dua titik ekstrim ini dibenturkan oleh sutradara Teddy Soeriaatmadja dalam sebuah kisah semalaman yang tenang, tertib, dan nikmat untuk diikuti. Tidak ada kontroversi yang meletup-letup, kritik sosial, atau kemarahan yang dicekoki ke penonton. Skenario berjalan dengan tujuan bercerita, bukan memaparkan pesan atau idealisme. Gambar-gambar yang diarahkan oleh sinematografer Ical Tanjung berbicara dengan jujur. Romantisme sekitar Jalan Blora di sisi Jalan Jend. Sudirman, Jakarta Pusat, pun tampil seadanya. Letupan-letupan kecil yang tercipta menjadi bumbu-bumbu yang pas saja, bukan sambal yang kelewat pedas sehingga menghilangkan cita rasa cerita. Kegetiran dan kemanisan teraduk dalam komposisi yang tepat.

Tentu penampilan Donny Damara sebagai Ipuy adalah tulang punggung Lovely Man – dan betapa kokohnya tulang punggung tersebut. Tanpa keasyikan berlagak kemayu untuk sekedar mengundang tawa, setiap gesture Donny Damara punya tujuan untuk bercerita dan memperkuat karakter. Raihaanun sebagai Cahaya pun tampil gemilang dengan tenang. Penggambaran karakternya sebagai gadis berjilbab yang penuh pergumulan demikian meyakinkan. Setiap keputusannya yang sesungguhnya besar, penting, dan bahkan kontroversial, tetap dibawakan dengan wajar, dan natural. Kedua bintang ini membiarkan karakter-karakter yang mereka bawakan menjadi hidup dan bercerita sendiri.

Sementara itu, untuk sebuah film yang biaya produksinya tidak mewah, sisi teknis terjaga dengan sangat baik. Musik oleh Bobby Surjadi sangat memikat, dan berhasil menjaga keseluruhan atmosfir film menjadi selalu lembut. Bersiap-siap untuk relaksasi selama kurang lebih 75 menit karena walau tidak bertele-tele, film berjalan tanpa tergesa-tergesa, menuju ujung cerita yang bukan akhir. Lovely Man menyisakan banyak kesan dan perenungan yang akan mengendap lama sekali di benak setiap penontonnya. Sebuah pencapaian yang tinggi oleh Teddy Soeriaatmadja!

2011, Indonesia. Drama. Penulis dan Sutradara: Teddy Soeriaatmadja. Pemeran: Donny Damara, Raihaanun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: