Bunda

“Dia itu bisa membuat miniatur mobil-mobil kami dari kertas karton. Kaca-kaca jendelanya ia buat dari plastik. Warnanya dibuat persis sama. Tidak ada petunjuk, tidak ada juga yang mengajari. Ia bahkan tidak pakai penggaris untuk menggambar polanya. Semua murni hasil kreativitasnya,” tutur Bunda dengan senyum bangga mengenai Abang.

Abang adalah anak kedua Bunda yang tahun ini usianya menginjak 41 tahun. Autisme membuat Abang berkelakuan selayaknya anak kecil yang enggan mengenakan baju saat sebelum dan sesudah mandi. Ia juga bisa menangis meraung-raung apabila ada satu dari sekian banyak koleksi sabun mandi batangannya yang hilang. “Karena dia orangnya apik,” Bunda menjelaskan. “Kamarnya sangat rapi dan teratur. Tidak ada yang boleh mengganggu gugat susunan barang di kamarnya selain dirinya sendiri. Baju dan celananya tersusun rapi.”

“Ia punya koleksi kaset-kaset rekaman dari penyanyi semacam Bimbo, Eddy Silitonga, Rafika Duri, dan lain-lain. Semua kaset itu ia cabut labelnya. Jadi, semuanya berwarna hitam. Tapi, ia bisa membedakan kaset-kaset itu satu sama lain. Kalau ia mau dengarkan Bimbo, ia tahu pasti mana kaset yang harus ia putar. Dan, ia ingat betul jumlahnya. Kalau ada yang hilang satu, ia akan membongkar seluruh rumah dan mencarinya hingga ketemu,” lanjut Bunda.

Istimewanya lagi, pernah Abang mendapatkan satu kotak puzzle yang terdiri dari 1.500 keping. Kepingan-kepingan itu akan menyusun sebuah lukisan abstrak. Permainan puzzle bertingkat kesulitan amat tinggi itu dapat diselesaikan Abang dalam waktu beberapa jam saja. “Kalau puzzle lain yang bergambar pemandangan, bangunan, atau apa saja yang bukan abstrak bisa diselesaikan oleh Abang dalam waktu kurang dari satu jam.”

Abang bukanlah satu-satunya anak Bunda yang autis. Si Bungsu yang berusia 27 tahun beda lagi. “Ia bisa Bahasa Inggris, mahir komputer, jago main piano, dan banyak temannya. Waktu masuk Sekolah Luar Biasa dulu, Bungsu itu bagaikan raja. Kalau ia tiba di sekolah, teman-temannya langsung berbaris menyambutnya,” Bunda tertawa kecil mengenang masa kecil Bungsu.

Sore itu, Bunda memanggil Bungsu dan mengenalkannya ke saya. Berbeda dengan Abang yang tidak berkomunikasi secara verbal dengan jelas serta cenderung menutup diri, Bungsu dengan ramah menyalami saya, lantas dengan penuh semangat mengoceh tentang computer game yang sedang ia gandrungi. “Jump Boy! Jump Boy!” katanya.

“Kalau Bungsu dibelikan software atau game baru, ia bisa meng-install-nya sendiri, dan bisa belajar main game tersebut tanpa dibantu orang lain,” tutur Bunda. “Malah ia pernah menggabung-gabungkan gambar di komputer dan memadukannya dengan lagu sehingga jadi semacam video klip!”

Setiap pagi, Abang mengatur kegiatan mandi buat seluruh keluarga. Ia akan memasak air panas. Ia bahkan menentukan pakaian apa saja yang harus dikenakan oleh seluruh anggota keluarganya – mulai dari atasan, bawahan, sampai pakaian dalam. Bunda akan mengikuti aturan main Abang ini. Yang sering menolak adalah Bungsu. Kalau Bungsu sudah enggan memakai baju yang dipilihkan oleh Abang, maka Abang akan duduk di dalam kamarnya, membuat keributan sendiri. Ketika Abang ribut, Bungsu akan sebal, marah, dan bahkan bisa menyerang Abang secara fisik.

“Itu sebabnya harus selalu ada yang menjaga mereka di rumah. Kalau saya pergi ke pasar untuk belanja, misalnya, maka saya harus memastikan bahwa ada orang di rumah yang menjaganya. Entah kakaknya, entah satpam, atau pembantu,” kisah Bunda.

Suami Bunda sendiri sudah delapan bulan terakhir ini hanya bisa terbaring di ranjangnya akibat terpaan alzheimer dan Parkinson yang sudah memuncak. Satu orang putra Bunda yang lain menikah dan tidak tinggal di rumah keluarga itu. Ada satu orang putra lain yang masih tinggal bersama dan membantu Bunda menjaga Abang dan Bungsu. Jadi, anak Bunda ada empat?

“Seharusnya ada lima,” kisah Bunda. “Anak saya yang pertama itu perempuan. Kakaknya Abang. Namun, ia lahir dengan membawa kondisi rapuh tulang. Kalsiumnya larut dalam urine-nya. Pada saat itu, ia adalah satu dari tiga orang saja di Indonesia yang mengidap kondisi tersebut. Setiap kali ia batuk, tulang iganya patah. Sendi-sendi tangannya pun rontok. Saya sudah keluar masuk rumah sakit dan ruang operasi untuk menungguinya dirawat dan diteliti. Saya sama sekali tidak mau berpisah dengannya. Sampai akhirnya ia meninggal di usia sembilan tahun.” Air mata Bunda mulai mengembang ketika ia bergumam, “Seharusnya tahun ini usianya empat puluh tiga.”

Di sekitar tahun 1968 hingga awal 1970 tersebut, masyarakat belum paham betul tentang autisme. Bunda berjuang merawat anak-anaknya sambil mendengar selentingan sana-sini bahwa kondisi mereka itu merupakan sebuah “hukuman karma”. Ditambah lagi suami Bunda mengalami depresi berat karena banyak ditipu orang dalam bisnisnya.

Kalau saya sekedar mendengar kisah ini lewat penuturan orang saja mungkin saya akan menganggap kisah ini dilebihlebihkan. Mana mungkin ada seorang ibu yang sekuat dan setabah Bunda. Namun, Bunda yang menerima saya di rumahnya kemarin sore itu adalah nyata. Tidak ada sedikit pun kesan bahwa hidupnya menderita. Bunda merawat anak-anaknya dengan telaten. “Abang itu pintar memasak juga,” katanya dengan semakin bangga. “Kalau goreng telur, jadinya enak sekali! Setiap kali saya pergi ke pasar atau supermarket, Abang pasti menuliskan titipan belanjaan – baik buat ia memasak atau membersihkan.”

Bunda pun menunjukkan setumpuk kertas yang dipotong dalam ukuran yang seragam. Kertas-kertas itu ditulisi huruf-huruf kapital. “MAMA, ABANG MINTA [merk sabun], [merk shampoo], TELUR, SABUN CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN. TERIMA KASIH.” Barang-barang pesanan tersebut berbeda-beda di setiap kertas. Namun, Abang senantiasa mengawalinya dengan “MAMA” dan mengakhirinya dengan “TERIMA KASIH”.

Seorang ibu yang mempersembahkan seluruh hidup dan dayanya bagi anak-anak dan keluarganya. Dan, anak-anak yang dalam kondisi apapun selalu menghormati dan menghargai ibunya. Seumur hidup, saya tidak pernah menyaksikan kisah nyata tentang cinta yang lebih dahsyat dari ini.

Si Bungsu alias Rino di konser 4Peniti (www.4penitikomuniti.com) di CCF Bandung, 18 Januari 2012. Foto: Nasrul Akbar, Ricky Arnold

47 comments
  1. dewi said:

    Rasanya tertohok banget bacanya, mas.

    Kangen bundaku😦

  2. agiel said:

    *speechless…. Feels like I’m nothing…😦

  3. May said:

    Wow. What an amazing mother.🙂 posting yg sungguj inspirational. Thank you for sharing such an inspirational story. Semoga bunda dan anak2nya senantiasa dipenuhi cinta. Bener2 gambaran keluarga sebagaimana definisi keluarga seharusnya.🙂

  4. Tanti said:

    Kisah cinta yang luar biasa……
    Hormat dan salut untuk semua Bunda yang telah mewujudkan beragam cinta bagi anak2 dan keluarganya.

    saya ijin share ya Mas..

  5. Ani said:

    y Allah klo ku jd bunda na ku pasti gak bakal kuat kya gtu ckckck
    semoga bunda selalu diberikan kekuatan oleh Allah SWT

  6. linda said:

    Wanita terhebat di dunia yg tiada tandingannya adalah seorang Ibu yang bisa menerima apapun keadaan anaknya, bahkan selalu ada ketika anaknya dalam kondisi yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikirannya…..

    Saya share ya Mas Ve….

  7. Salam untuk bunda ya mas, saya juga punya adik autis namanya Aditya , umurnya 16 tahun. Saya izin share ya mas.

  8. idawy said:

    huaaaa bikin terharu, benar2 Bunda yg kuat, pingin banget meluk beliau..
    thanks ya mas buat sharingnya..

  9. Mitha said:

    Whatta life story :’) Boleh saya share di note fb saya ga? Pake acknowledgement?

    • Boleh di-share, tapi lebih mudah klik tombol “facebook” yang ada di bawah blog entry ini (sebelum bagian Comments). Kalau mau di-share di Notes, tolong dicantumkan sumbernya ya. Terima kasih🙂

      • Mitha said:

        Iya juga (‾⌣‾”٥) *tepokjidat* Saking stunned-nya baca, sampe ga kepikiran bisa share dgn cara gitu #ngeles Thx🙂 Respect pisan, sama Bunda yg hebat&Mas Ve yang mau membaginya lewat blog.

  10. Qq said:

    *berkaca-kaca*

    Izin share ya mas?

  11. fani said:

    Jaman skrg aja msh banyak yg bersikap jahat terhadap penderita autis apalagi dahulu ya. Salut bgt utk bunda yg bisa merawat 2 anaknya yg istimewa ini. ♡

  12. yahya said:

    Memang, Malaikat juga tahu, siapa yang JUARA…. So touching, tq 4 sharing

  13. Lany Rh said:

    Mohon ijin untuk di share, boleh?
    Terimakasih.

    • Boleh dong kalau mau di-share🙂 Thanks, ya🙂

  14. wida said:

    Mau bisa seperti bunda..
    Membesarkan dan mendidik <3Ќα̇̇̇̊ƔLα̣̣̥<3 kecilku yang down syndrom dgn penuh cinta dan sayang…

    • Boleh di-share. Salam kenal juga🙂 Terima kasih, ya.

  15. Tuty said:

    Bunda yang Hebat.

  16. Luar biasa bisa membesarkan anak dengan keunikannya masing-masing dan menjadi individu yang survived.

  17. Luar biasa..
    Jadi inget cerpennya Dewi Lestari yang “Malaikat Juga Tahu”..
    Btw, udah pernah baca novel yang judulnya “A Mom Like Alex”, Kak?
    Itu juga bagus,, tentang seorang wanita yang mengadopsi dan merawat 7 orang anak Down Syndrome..🙂

    • Bunda ini memang yang jadi inspirasi buat Dewi Lestari menulis “Malaikat Juga Tahu”.

  18. putrie dwi said:

    Terharuuuu T.T
    mas ijin share yaaaa🙂
    Makasiii

  19. phii said:

    Kisah-kisah yg kayak gini yg bs bkin kt sadar btapa wajibny kt bersyukur..

  20. Kisah yang sangat menyentuh. Terimakasih artikelnya.

  21. zahrn said:

    Mas, ijin ngeshare ya🙂

  22. echa buchanya shaqy said:

    Haru amat dalam.. Inget Shaqy anakku.. :((
    Tapi sangat curious liat wajah bunda mas ve..
    Pasti banyak gurat kesedihan berbalur kesabaran yg melahirkan kebahagiannya..
    Salut buat bunda, semoga kami para ibu muda bs mengikuti jejakmu..

  23. TEKNO said:

    berbahagialah bagi yang masih bersama bundanya. kisah yang inspiratif..thank you for sharing

  24. hujanmeteor said:

    Kirain cerpen, ternyata kisah nyata. Bunda yang hebat. Btw, emak gw juga hebat.🙂

  25. Su12in said:

    Subhanallah.. salut untuk beliau

  26. rohalus said:

    Salah hormat yang paling dalam buat para ibu, Kita para suami mungkin tidak pernah menyadari betapa luar biasanya istri kita, betapa hebatnya ibu yang melahirkan kita. Kita kadang memperlakukan beliau tidak pantas, padahal semua hal terkecil pun beliau yang mengurus dengan sabar tanpa kita ketahui. Kita kadang lupa bahwa kita memiliki istri yang hebat dan luar biasa menunggu di rumah…..salam hormat buat para ibu….

  27. itus said:

    Jadi ……kangennn sama almarhum ibu…….Ya allah limpahkan kasih sayangmu kepada almarhum ke 2 orang tua kami, lapangkanlah kuburnya… tidurkanlah beliau dengan tidur yang nyeyak……ya Allah…. kabulkanlah permohonanQ
    Aaammiiiinnnn

  28. gizihati said:

    tulisannya bagus om, terima kasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: