“Kamse-u-pay”: Kata dengan Sejuta Kenangan

Blog entry berjudul Mulut Kotor Penyanyi Baru Dee Djumadi Kartika Trionya Memes Addie MS Motivasinya Apa Ya?: Marissa Haque Fawzi ini tiba-tiba membuat kata “kamseupay” muncul ke permukaan. Kata ini menurut saya sebaiknya dibaca “kamse-u-pay” dengan gaya para penjahat di film silat era 1980-an saat merendahkan jagoan yang kelihatan culun.

Dari sekian banyak dugaan tentang asal usul “kamse-u-pay”, saya punya sebuah versi yang lekat dengan masa kecil saya sendiri. “Kamse” adalah sepupu dekat dari kata “jorse” yang adalah singkatan dari “jorok sekali”. Keduanya adalah sepupu jauh dari kata “somse” yang adalah “sombong sekali”. “Kamse” sendiri merupakan singkatan dari “kampungan sekali”. Saya sebut “kamse” dan “jorse” bersepupu jauh dengan “somse” karena dua kata yang pertama itu bernada merendahkan, sementara “somse” bernada nyinyir.

Saya besar di lingkungan Pecinan Jakarta era 1980-an sebagai anak bungsu dari keluarga besar Cina Kota. Lingkungan Mangga Besar, Jakarta Barat, dulunya adalah lingkungan elite keturunan Cina di Jakarta. Ketika perdagangan membuat mereka tambah kaya, barulah mereka berpindah ke Kelapa Gading, Green Garden, Sunter, Pluit, dan sebagainya. Saat saya menginjak usia remaja, Mangga Besar sudah tidak tergolong elite lagi karena kalah gengsi dengan Kebon Jeruk Baru. (Kenapa namanya Kebon Jeruk Baru? Karena Kebon Jeruk yang lama adanya di dekat Mangga Besar. Ketika menjadi Orang Kaya Baru, penghuninya pindah ke Kebon Jeruk Baru di daerah ujung Jakarta Barat itu.)

Saya ingat ada banyak orang yang suka nyinyir melihat keberhasilan orang lain, khususnya yang masih berhubungan keluarga, dan menyebut mereka “somse”. Ini adalah suara hati golongan yang kepengin berhasil tapi belum tiba waktunya. Untuk menyeimbangkan rasa gengsi itu, golongan setengah-setengah ini mencari korban untuk direndah-rendahkan. Sasaran paling empuk adalah para pembantu rumah tangga dan juga orang-orang pribumi yang tinggal di sekeliling mereka, yang secara fisik berkulit gelap. Kosakata yang digunakan bervariasi, mulai dari yang paling kasar, yaitu “tiko”, yang diskriminatif, yaitu “huana”, hingga yang kasar saja, yaitu “udik” atau “kampungan”. Kata “kampungan” ini yang kemudian berevolusi menjadi “kamse”.

Pada saat itu, warga keturunan Cina memang dalam posisi serba sulit. Tidak ada tempat belajar bahasa Mandarin atau Kanton. Tidak ada acara-acara budaya di tempat umum. Warga keturunan Cina harus menjadi eksklusif demi merasa aman, sehingga muncullah istilah Pasukan Cina Kota, alias “pacinko”. Di media cetak dan elektronik pun tidak banyak wakil dari warga keturunan Cina yang bisa membuat kami merasa jadi bagian dari bangsa Indonesia. Dulu tidak ada seorang Morgan Oey yang dipuja-puja remaja se-Indonesia. Untunglah ada film-film silat dalam format video Betamax yang bisa kami sewa – dan tentunya statusnya adalah bajakan! – serta film-film layar lebar yang diputar di bioskop semacam Mandala, Century, Galaxy, juga bioskop-bioskop di Taman Lokasari yang dulu bernama Prinsen Park. Waktu kecil saya berhasil menangkap kosakata secara sembarangan dari film-film tersebut, seperti “sencingping” dan “tiye” – artinya “sinting” dan “ayah”.

Kosakata lain yang tertangkap adalah “Pay” yang menempel dengan nama tempat atau kumpulan dan saya perkirakan berarti “partai”. “Shaolin Pay” adalah “Partai Biarawan Shaolin”, “Bu Tong Pay” adalah “Partai Biarawan Bu Tong”, dan seterusnya. Inilah yang saya yakini sebagai pemicu evolusi selanjutnya dari hinaan “kampungan” tadi. “Kampungan” menjadi “Kamse”, lantas dikembangkan lagi jadi “kamse-u-pay”. Infiks “u” saya perkirakan hanyalah berfungsi sebagai bunyi penegasan saja. “Kamse-u-pay” digunakan untuk mengejek orang dari kalangan, atau sekalangan orang yang dianggap kampungan. Tentu, pada masa itu, yang menjadi target ejekan biasanya adalah penduduk pribumi kalangan ekonomi bawah; para tukang, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

Saya cukup beruntung punya orang tua yang akan mengomeli saya habis-habisan jika menggunakan kata “kampungan” atau “kamse-u-pay” untuk mengejek kalangan pribumi. Menggunakan kosakata “tiko” yang amat kasar itu apalagi. Mulut saya bisa dijejali cabe rawit. Beberapa alasan kenapa orang tua saya sangat tegas waktu itu sebenarnya praktis saja: 1. Mereka menghindari konflik antara kami, keluarga keturunan Cina, dengan kalangan pribumi, 2. Mereka merasa pembantu rumah tangga dan juga tukang-tukang di sekeliling kami adalah bagian dari keluarga kami, dan 3. Saya pribadi berkulit gelap dan bermata tidak sipit. (Malah, teman-teman saya yang keturunan Cina sering mengejek saya “tiko” atau memanggil saya “huana”.) Yang jelas, keluarga inti saya lebih sering menggunakan kata “kamse-u-pay” untuk mengejek sesama anggota keluarga dalam konteks bercanda.

Saat ini, ketika warga keturunan Cina sudah bisa merayakan Tahun Baru Imlek dengan bebas, belajar Bahasa Mandarin di mana saja, menggunakan nama tiga kata, dan seterusnya, ruang untuk peleburan secara harmonis sudah sangat terbuka. Lama kelamaan, kata “kamse-u-pay” sudah kami lupakan. Hinaan “tiko” sudah mati sama sekali. Atau setidaknya, kata-kata itu sudah lama tidak terdengar di lingkungan keluarga saya, terlebih ketika kakak-kakak saya menikah dengan “huana”.

Lalu kenapa “kamseupay” bisa muncul di blog tersebut di atas? Dugaan saya, kosakata itu memang menyebar ke luar komunitas-komunitas warga keturunan Cina era 1980-an dulu. Maknanya mungkin tetap sama tapi konteks penggunaannya sudah berbeda. Kalau kosakata itu populer kembali hari ini, saya rasa penggunaan yang tepat adalah untuk menyindir orang-orang yang semacam ini, tanpa memandang ras, suku atau agamanya:

01. Mereka yang menyerobot masuk ke dalam lift sebelum orang di dalamnya keluar.
02. Mereka yang tidak mengerti apa makna, fungsi, dan caranya mengantri.
03. Mereka yang ribut mengobrol di dalam bioskop sepanjang pertunjukkan film.
04. Mereka yang langsung menyalakan BlackBerry-nya di dalam pesawat terbang saat roda pesawat baru menyentuh tanah.
05. Mereka yang memajang daftar kesarjanaannya di akhir blog entry-nya tapi tetap menggunakan kata “kamseupay” untuk mengejek orang lain.

39 comments
  1. Ya ampun om Ve, masih aja lho di bahas. Kira2 jargon bu doktor itu mampu menggeser jargon Diva kota Galau itu ga?

    • Ini ‘kan pembahasan etimologis. Cieeeh!😀

  2. Dragono Halim said:

    Menarik.
    Baru tahu kalau ada hubungannya dengan slang yang dipopulerkan sebagai sandingan ‘Huana’ (yang sebenarnya sih, bukan hinaan. Dan masih aktif digunakan sampai saat ini, di beberapa daerah :))

    • Kalau di keluarga gue dulu, “huana” tergolong kata hinaan, Gon. Gue sendiri ngga pernah tahu makna literal-nya apa, sih. Englighten us, please.

      • Aku kira Huana tuh artinya “pribumi” yang konotasinya sama orang keturunan Cina adalah miskin dan hitam dekil (baca: pembantu).

  3. Mario said:

    kirain Kamseupay salah satu partai di Kang Ouw karangan Kho Ping Hoo :))

  4. Tulisannya Informatif. Terima kasih.
    Btw, saya empet juga lihat gelar yang dipajang berpanjang-panjang macam milik si artis kamseupay itu.😉

    Salam persahablogan,😉

    • Mungkin memang lagi koleksi gelar buat mendapatkan gelas cantik, ya.

  5. Aley said:

    Mencerahkan setelah seharian bingung, pening dg “isi blog tsb”.. Artikel ini menarik..

  6. Mang Somad said:

    Akhirnya, ada yang bahas ‘Kamseupay’ juga🙂 lebih mencerahkan daripada baca blognya Dr. Kamseupay itu. Artikelnya menarik Om Ve🙂

  7. Menyambung Naga Bandara, Huana, dalam bahasa Teo Chew, dilafalkan “huan nang” artinya adalah orang pribumi. Sedangkan “Teng nang” artinya, orang Cina. “Nang” nya jelas, berarti ‘orang’. Dan huana/huanang memang bukan kata makian, sih. At least yang gue pelajari di Kalimantan begitu. xD

    • Berarti kayaknya bener, itu bukan hinaan / makian, cuma diskriminatif aja ya, secara makna literal. Dulu di lingkungan gue kata itu diucapkan dengan nada merendahkan / membedakan, jadi gue ngertinya itu jadi semacam hinaan.

  8. Rusa said:

    Owalah ini maksud kata yg diributkan itu. Berarti si mbak Marissa ini gak ngasal kan ya, berarti yg mengejeknya yg Kamseupay :33

  9. Adeth Siregar said:

    Tambahin listnya ah, org yg ke gereja pake hotpants and tanktop plus ngobrol or main game selama ibadah berlangsung itu jg ‘kamseupay’

  10. wahyu asyari m said:

    hihi, gara2 baca ini jadi tau maksudnya😀

    • Ini versi dugaan saya ya berdasarkan kenangan masa kecil, ya. Hehe. Belum tentu 100% benar, kok🙂

  11. Arham said:

    insightfull dan berbobot sekali

    jd terpikir yo apa mungkin maksudnya di pemilik blog ituh

    Kamseupay = KAMu SemUa PAYah

  12. rerere said:

    tiko itu emang maknanya kasar ya… kata nyokap kalo ga salah artinya celeng apa ya…

    • Saya juga ngga tahu dengan pasti makna harafiah “tiko” apa, tapi yang jelas waktu masih kecil dulu saya benar-benar dilarang mengucapkan kata itu.

      • rerere said:

        kata nyokap, kalo huana & tenglang itu konteksnya nggak terlalu menghina tapi emang diskriminatif. seperti halnya orang batak ada istilah halak hita (orang kita/orang batak) dan halak ion (di luar batak).
        ‘tiko’ sendiri kata nyokap emang artinya either babi jantan/celeng ato sekitar itu lah, dipake untuk merefer ke huana dgn nada geregetan bgt dengan huana.
        katanya gitu sih.. hehehe

  13. Yogi said:

    Wah.. akhirnya saya dapet info kesejarahan kata ini. Terimakasih banyak..😀

  14. haris said:

    baru benar2 sadar kalau yg dimaksud di nomor lima itu adalah si dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu. ha3. edan ya bagaimana dia bisa jadi sangat terkenal dg mulut tajamnya. he2.

  15. dan akhirnya tau juga arti kata2 tersebut..

  16. Ardhi said:

    shared everywhere🙂

  17. venus said:

    ehehehehe… aku mual baca blog post yang itu, yang di sana itu😀

  18. Miji_douGin said:

    Jadi inget waktu sekolah dulu (tahun 2000an), istilah “kamse-u” itu sempet populer. Ya, artinya ga jauh beda dg yg dijelaskan di atas itu. “U”-nya itu utk “you”. Jadi “kamse-u” = “kampungan sekali you”.🙂

    • Iya, ada yang bilang juga “U” itu memang untuk “you”. Tapi anehnya, bentuk pemakaian seperti itu ngga muncul di kosakata slang lain, ya.

  19. lodegen said:

    nah ini baru berbobot. orang2 yg merendahkn org lain hanya karena status sosial perlu dikasihani

  20. linda said:

    Kalo di kalangan orang yg berbahasa jawa spt daerah jawa jadinya ‘kamso’ alias ‘kampungan ndeso’ kurang lebih artinya…mungkin turunannya ato slang nya kali ya hehehehe….*ngasal

  21. sofi said:

    gw nyasar disini, dan sempet terganggu kamseupay itu apa sih, ada hubungannya dengan sampek engtay ga’?! *ditabok* :p
    thanks atas penjelasannya yah :p

    btw itu gambar diatas yg ceweknya ariel lin bukan sih *sotoy* XD~

  22. ibulusi said:

    Taman Lokasi atau Taman Lokasari?

    • Eh, iya, salah ketik. Thanks. Udah direvisi😀

  23. wah, ada spin-offnya si kata2 tu doktor.. tengkyu ya udh nulis ini.
    jadi inget kata “kamse-u” yang sering dibilang sama papa sambil becanda kalo saya nglakuin hal bodoh yg ga seharusnya dilakuin atau kalo saya ngga tau berita terkini.. hahahaha..

  24. nanik said:

    salam kenal…dan selamat merayakan imlek yaaa🙂 tulisan yang menarikkk, jadi ngerti maksud “kamseupay” ituh hehee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: